Sejarah Ahlan

Ahlan Magazine adalah media cetak Islami hasil karya santri yang didirikan pada 12 Agustus 2012 oleh cetusan ide cemerlang santri kreatif Nuril Huda, Miqdad Al-Jaba dan Alfi Aulia Rahman. Mereka dipersatukan oleh takdir melalui kegemaran mereka terhadap game online. Perjalanan mereka untuk membangun sebuah kebaikan seringkali dihalangi oleh berbagai masalah, dimulai dari permohonan izin, pengajuan dana, hingga cibiran atas ketidakpercayaan berdirinya organisasi ini. Demi mimpi yang sudah di pelupuk mata, mereka tak gentar menghadapi semua masalah yang menjatuhkan semangat mereka.

Ustadz Nafi’ Zainuddin, yang kala itu menjadi mudir pesantren, berharap keberadaan Ahlan Magazine mampu meningkatkan kualitas pesantren. Seiring perjalanan merintis, semakin besar rintangan, semakin besar pula nyali mereka. Tanpa ragu, mereka mencari dana dengan berbagai cara. Diusir dari toko ke toko, menahan malu meminta dana dari para wali santri, bahkan mengadakan penggalangan dana keliling kelas. Semua hal itu mereka lakukan demi terbitnya majalah. Tak sampai disitu, minimnya komputer untuk proses editing layout majalah serta komunikasi dengan pihak percetakan yang tidak leluasa memperumit terealisasinya majalah ini.

‘Nekat’ itu yang mereka lakukan setiap kali tidak diperkenankan izin keluar pesantren. Apapun resikonya, mereka siap menanggung. Pengorbanan yang tak mudah, hingga majalah dalam proses percetakan.

Proses percetakan selesai. Senang, bangga, dan haru bercampur menjadi satu ketika majalah tiba di Pesantren Islam Al-Irsyad. Mimpi mereka terwujud, ini bukanlah omong kosong. Semua yang mereka korbankan, pada hari itu terbalaskan.

Masalah tidak berhenti sampai disitu. “Majalah kurang bagus, majalah kurang menarik, majalah kurang berbobot” begitulah ocehan para santri. Tapi tak apa, yang terpenting mereka bisa membuktikan bahwa mereka mampu. Sebuah kata pepatah menyakinkan mereka, ”Apabila mereka membicarakanmu di belakang, maka berbahagialah, sesungguhnya kamu ada di depan.”

Inilah Ahlan Magazine, di setiap tahunnya, di setiap generasi, bahkan di setiap edisinya rintangan, halangan, dan masalah seakan menjadi makanan yang mereka hadapi sehari-hari.